Send via SMS

Perjalanan Hidup Anak Manusia Solidaritas Kebersamaan

Selamat Datang di Blog yang menceritakan bagaimana Anak Manusia menceritakan Kisah Kehidupan-nya mengarungi hidup dan memaknai hidup ( Mohon Maaf bila masih sederhana karena masih dalam tahap belajar)

Tuesday, February 28, 2006

Saat Anak Berhenti Tersenyum

BELAKANGAN ini, pelecehan dan kekerasan seakan menjadi bahasa sehari-hari yang sering kita dengar di media massa. Bagi Anda yang menyayangi anak-anak, ketika mendengar kata pelecehan dan kekerasan pada anak-anak, mungkin Anda langsung membayangkan tentang caci maki, pelecehan seksual, dan kekerasan fisik pada anak.

Pada kenyataannya, pelecehan pada anak-anak tidak hanya sebatas itu, pelecehan tanpa disadari banyak dilakukan oleh para orang tua. Dengan melarang seorang anak melakukan hal-hal yang disukainya saja sebenarnya kita sudah melakukan pelecehan secara psikologis terhadap anak-anak.

Anda mungkin berpikir pelarangan tersebut (misalnya melarang anak bermain pasir) Anda tujukan untuk kebaikan sang anak juga. Namun Anda tidak menyadari bahwa pelarangan tersebut tidak hanya membatasi kebebasan sang anak, tetapi juga berdampak pada psikologisnya. Sang anak menjadi takut untuk melakukan sesuatu, inisiatif dan daya kreasinya menjadi tumpul karena anak harus menunggu persetujuan Anda sebagai orang tua agar mereka diizinkan melakukan sesuatu yang mereka inginkan.

Ketika Anda membaca buku-buku yang menceritakan tentang kekerasan pada anak-anak, Anda akan menemukan bahwa tidak semua anak diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Ada sebagian anak yang mendapatkan kekerasan fisik akibat perbuatan yang tidak sengaja mereka lakukan, misalnya mengompol. Kekerasan secara fisik tidak hanya akan melukai fisik anak, tetapi juga akan mengganggu perkembangan mental sang anak, terutama karena mereka belum memahami sepenuhnya mengapa mereka diperlakukan semena-mena.

Di Indonesia hampir di setiap sudut jalan dapat kita temukan anak-anak jalanan. Dalam hati kecil kita pasti heran, kenapa anak-anak tersebut dibiarkan berkeliaran begitu saja di pinggir jalan dalam keadaan tak terurus. Jangankan mendapat kasih sayang, uang saja mereka harus mencari sendiri.

Sebenarnya kalau membicarakan tentang undang-undang, di Indonesia sudah ada pasal yang mengatur tentang anak-anak yang telantar seperti itu, yaitu Pasal 34 UUD 1945, tetapi sampai sekarang pelaksanaannya masih patut dipertanyakan. Sudah menjadi rahasia umum kalau pelaksanaan undang-undang di Indonesia tidak tegas, hanya sebatas teori belaka.

Belakangan sering terdengar tentang kekerasan pada anak tidak hanya sebatas pukulan dan tamparan, tetapi berkembang pada pelecehan seksual dan pemerkosaan. Pandangan kuno masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa hanya wanita berpenampilan seksi atau berpakaian terbuka saja yang bisa menjadi korban perkosaan. Pandangan tersebut tentu saja salah dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman saat ini.

Tidak hanya wanita yang berpakaian terbuka yang bisa menjadi korban perkosaan, anak-anak pun tak luput dari kejahatan semacam itu. Kalau dulu kita masih akan terheran-heran mendengar tentang perkosaan ayah terhadap anak kandungnya. Sekarang berita semacam itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Di televisi dan surat kabar berita semacam itu sudah tidak ditutup-tutupi lagi.

Sayang sekali tidak banyak orang tua yang mempersiapkan anak-anaknya menghadapi pelecehan seksual semacam itu. Seks masih dianggap tabu untuk dibicarakan dengan anak-anak. Padahal seharusnya anak-anak diberikan pengetahuan tentang seks yang sesuai dengan usianya agar apabila suatu saat sang anak mendapat "perlakuan yang tidak seharusnya" dapat segera melapor kepada orang tuanya. Kebanyakan anak yang mendapat pelecehan seksual memilih untuk bungkam. Alasan eksternal dari kebungkaman itu tentu saja karena sang anak mendapat ancaman dari sang pelaku. Namun di balik itu terdapat alasan dari diri sang anak juga. Sang anak takut kalau ia tidak disayang lagi setelah orang-orang tahu ia mendapat pelecehan seksual.

Mungkin alasan tersebut terdengar lucu di telinga kita. Tetapi rupanya pikiran seorang anak jauh berbeda dengan pikiran orang dewasa. Walaupun belum memahami sepenuhnya tentang "sesuatu" yang telah terjadi pada dirinya, sebagai manusia seorang anak mempunyai naluri dan mencium ketidakberesan yang telah diperbuat orang terhadap dirinya. Setelah mendapat perlakuan yang tidak senonoh (misalnya perkosaan), seorang anak merasa ada yang hilang dari dirinya atau ada sesuatu yang salah telah menimpanya.

Beban yang diderita seorang anak perempuan yang baru saja diperkosa bukan sebatas rasa sakit pada alat kelaminnya, tetapi juga rasa malu dan sakit hati yang harus dideritanya seumur hidup, terutama setelah dewasa, ketika ia kemudian mengetahui apa yang telah menimpa dirinya secara jelas. Ironisnya, sebagian besar pelaku pemerkosaan pada anak adalah kerabat dekat atau orang yang sudah dikenal baik oleh sang anak. Orang yang selama ini disayangi oleh mereka (anak-anak tersebut) tiba-tiba berubah menjadi "monster" yang telah mengambil harga diri anak-anak tersebut.

Kejahatan terhadap anak-anak dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Asalkan ada kesempatan sang pelaku tidak segan-segan memuaskan nafsu berahinya terhadap anak-anak. Yang mengherankan, tidak hanya anak perempuan yang bisa menjadi korban pelecehan seksual. Survei yang dilakukan Pusat Krisis Terpadu untuk Perempuan dan Anak RSUPN Cipto Mangunkusumo (PKT RSCM), dari seluruh kasus pelecehan (kekerasan) seksual pada anak, terdapat sekian persen anak laki-laki yang menjadi korban kasus pencabulan atau sodomi.

Di Indonesia sebenarnya telah dibuat undang-undang tentang kekerasan pada anak, misalnya Pasal 287 KUHP, yakni tentang persetubuhan anak di bawah umur dan Pasal 290 KUHP tentang perbuatan cabul terhadap anak di bawah umur. Namun patut disayangkan, kejahatan seksual pada anak seperti ini seperti dianggap angin lalu saja karena hukuman yang diberikan terhadap pelakunya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit dan malu yang harus ditanggung sang anak seumur hidupnya. Pasal 287 KUHP saja mematok hukuman maksimal 9 tahun atas kejahatan seksual pada anak tersebut.

Kekerasan pada anak memang topik yang tidak ada habis-habisnya untuk dibicarakan, karena orang tua yang "normal" atau menganggap anak sebagai harta tak ternilai tidak akan sampai kepada pikiran mengapa kejahatan seksual dilakukan pada anak-anak, masa di mana seorang manusia sedang tumbuh dengan lucu-lucunya. Dalam hal ini mencari tahu sebab-sebab pelaku melakukan kejahatan seksual bukanlah hal yang penting. Yang lebih penting adalah menghindarkan anak dari pengetahuan seks yang tidak sehat.

Seperti yang diungkapkan oleh Gede Prama, anak-anak adalah gerbong kehidupan yang membawa cinta kasih. Apa yang Anda lakukan bersama anak-anak akan dikenang terus oleh mereka di kemudian hari.(Myrna mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad.)

Sumber : Harian Pikiran Rakyat

Friday, February 24, 2006

Bantulah Aku Mengobatkan Anakku

Siti Aminah (22) mengaku kerap termangu menyaksikan berbagai acara di televisi kreditannya. Acara televisi yang belakangan banyak menyorot kesusahan orang miskin membuat angannya melayang. Mimin, panggilannya, berharap sekali suatu saat anaknya yang telah bertahun-tahun mengidap hydrocephalus dapat tertolong melalui acara serupa.

Buah hati pertamanya, Ahmad Irvan (4), mengidap hydrocephalus sejak usia tiga bulan. Ipan, panggilan anaknya itu, kini sehari-hari hanya bisa telentang. Kadang tangisan keluar dari mulutnya atau sesekali sebentuk senyum merekah di mulut mungilnya. "Bisanya ya cuma ini. Kadang keluar suara kayak kucing. Kalau lihat anak-anak kecil di luar rumah, dia suka nangis, kayaknya pengen ikut main. Kalau saya dekatin ke anak-anak itu, nangis-nya diam," tutur Mimin.

Mimin pada akhirnya memang hanya bisa menggantungkan angan dengan menatap layar kaca. Sebab, telah beberapa kali dia berusaha untuk mengurus kartu miskin, baru sampai di tingkat rukun tetangga (RT) sudah mentok. Alasannya, Mimin dan Ishak, suaminya, merupakan warga pendatang yang belum genap dua tahun mengontrak di Depok. Mimin dan Ishak berpindah- pindah kontrakan, membuat mereka kerap kesulitan mengurus KTP, apalagi kartu miskin.

"Saya sudah capek ngurus. Saya, suami saya, cuma orang bodoh, bisa apa. Sudah diomongin begitu, enggak ngerti mau ngapain lagi. Buat bikin KTP dan kartu keluarga belum ada tabungan, soalnya Rp 200.000 sendiri," ujar Mimin.

Tetangga Mimin pun hanya bisa menghiburnya dengan mengatakan supaya Mimin bersabar, pasrah, dan menerima cobaan tersebut. Ia kini mengontrak di Kelurahan Abadi Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Depok.

Ishak, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh di Pasar Agung Depok dengan membantu seseorang berdagang kelapa, hanya berpenghasilan pas-pasan. Setiap hari Ishak hanya bisa mendapatkan uang sekitar Rp 30.000. Penghasilannya itu dialokasikan terutama untuk membeli susu bubuk untuk Ipan. Pasalnya, Ipan selama bertahun-tahun hingga kini hanya bisa mengonsumsi susu. Bubur atau buah sehalus apa pun tak bisa ditelan Ipan. Makanan itu kerap keluar dari hidungnya jika disuapkan oleh Mimin.

"Sehari habis satu dus susu ukuran 200 gram. Jadi, tiap hari suami menyisihkan Rp 12.000 sendiri untuk beli susu," ujar Mimin.

Sisa penghasilan suami per hari tersebut disisihkannya sebesar Rp 5.000 untuk menabung guna membayar kontrakan. Sisanya untuk makan belanja bahan pangan sehari-hari bagi mereka berdua. Karena itu, mustahil bagi pasangan ini untuk dapat mengobati Ipan.

Mimin mengaku sempat nekat ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk mencari pertolongan. Namun, ketika para tenaga medis di sana menyebut angka Rp 15 juta untuk biaya operasi, hati Mimin dan Ishak langsung ciut. Akhirnya, sejak itu Mimin dan Ishak hanya sanggup membawa buah hati mereka ke dukun. Mimin menghitung telah 40 kali mereka bolak-balik ke dukun yang sama dengan biaya Rp 50.000 setiap kali kunjungan. Menurut Mimin, dukun tersebut menyebut perlu 20 kali sesi "pengobatan" kembali. Namun, Mimin dan Ishak lama-lama tidak sanggup dengan biayanya. "Sejak ke dukun itu perkembangannya lebih baik. Cuma Ipan sekarang bisa keringatan, dulu enggak," ujar Mimin.

Mimin mengaku kerap pilu hatinya jika melihat anak-anak sebaya Ipan yang lincah bermain di sekitar rumahnya. "Saya kadang ngimpi pengen ketemu, ngadu, sama Menteri Kesehatan supaya anak saya dioperasi.," ujar Mimin. (Sarie Febriane)

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0602/22/metro/2421929.htm.

Saturday, January 21, 2006

Taman Yang Paling Indah Hanya Taman Kami

- untuk RR

Allah yang baik,
senang deh aku sudah di sini
tak ada lagi mama yang galak
dan paman yang sering membentak

Allah yang baik,
bolehkah aku bergabung
dengan teman-temanku di sebelah sana
yang sedang menyanyi gembira,
"taman yang paling indah hanya taman kami..."

aku suka sekali lagu itu
tapi tak pernah bisa menyanyikannya sepenuh hati
karena sebelum ini,
aku hanya bisa mendengar lagu itu
dari balik dinding rumah
sayup-sayup
seperti memanggil-manggil untuk bergabung, bergembira
tapi aku bukan burung yang punya sayap
aku tak bisa terbang ya Allah,
keluar barang sebentar dari rumahku yang pengap

Setiap pulang sekolah
dan ayah sedang tak ada di rumah
paman menyuruhku rebah
kadang-kadang menghadapnya, kadang-kadang
membelakanginya.
lalu aku tak tahu apa yang dilakukannya, ya Allah
tapi rasanya sakit sekali
badanku sakit
tulangku sakit
pahaku sakit
mataku sakit
karena airmataku habis menahan jerit.

Allah yang baik,
aku kangen ibu, bukan mama
mama bukan ibu yang melahirkanku
mama adalah istri ayah yang baru
yang lebih sayang pada anaknya sendiri
bayi mungil yang lucu

aku sih sayang pada adikku itu, ya Allah.
tapi aku takut, setiap kali aku mencium adik
tangan mama mampir di wajahku,
rasanya lebih sakit dari kejedot kusen pintu.
setiap kali aku mencubit pipi montok adik
tangan mama memuntir kupingku
sampai hampir putus rasanya, ya Allah.
mungkin satu kali pernah berdarah aku tak ingat lagi

Allah yang baik,
pernah satu kali mama membekap mulutku rapat-rapat
aku seperti ikan di pasar, yang megap-megap ingin hidupa
ku menjerit memanggil-manggil ayah
tapi mama semakin kencang mencekik leherku
seperti film-film pembunuhan yang pernah kulihat
di televisi. betul ya Allah, aku nggak bohong, lho.
di sekolah aku kan diajar bu guru nggak boleh bohong,
baik kepada orang lain apalagi kepada Allah.

Tapi mungkin memang aku yang cengeng ya Allah,
aku selalu menangis bila paman melakukan terus menerus perbuatannya yang membuatku sakit
aku pernah berpikir untuk mengambil pisau dan menusuknya seperti pada sinetron-sinetron yang pernah kulihat.
tapi aku tak pernah berani.
bahkan ketika ayah sedang di rumah, dan memelukku pun,aku tak berani bercerita apa-apa kepadanya.

Di buku-buku cerita, aku lihat anak-anak seumurku selalu manja pada ayah dan ibunya
mereka bisa naik pundak sampai menginjak kepala
lalu tertawa-tawa bersama.
lalu orangtua menggelitiki perut anak-anaknya
menciumi sepuasnya-puasnya, sampai si anak memang rasanya seperti hampir mati juga
tapi mati karena rasa geli dan bahagia
mengapa hal itu tak pernah terjadi padaku, ya Allah?

Apakah para penulis di buku-buku cerita itu berbohong,
mereka hanya mengarang yang indah-indah saja?
kalau begitu hukumlah mereka ya Allah
karena membuat anak-anak sepertiku tambah sedih
tak pernah merasakan apa yang mereka tulis di buku-buku itu.

Teman-temanku di sekolah selalu ngomong tentang pleistesyen dan boneka berbi,
aku tak pernah iri lho, ya Allah.
bener deh, suwer!
aku tak pernah iri soal mainana
ku ingin hanya ada dua ciuman berbarengan
dari mama di pipi kanan, dari ayah di pipi kiri
kalau ayah pulang ke rumah,
mama kadang-kadang mau tersenyum padaku, aku akui itu ya Allah,
tapi tetap saja dia tidak pernah mau menciumku.

Aku ingin sekali ingin bercanda dengan mama dan adik kecilku yang lucu,
apalagi kalau ayah sedang tidak di rumah.
tapi selalu aku disuruh mama menemani paman,
yang membuatku terus menjerit kesakitan.

Ya Allah,
kenapa mama tak pernah mengelus airmataku ketika aku kesakitan?
kenapa mama malah menampar wajahku berulang kali?
kenapa mama malah membekap mulutku begitu kencang?
kenapa mama malah mencekik leherku seperti teman-teman mencekik belut sampai mati pada perlombaan tujuh belas agustus di sekolah?

Allah yang baik,
tapi sekarang aku gembira, suwer!
di sini banyak sekali teman-teman
kuyang bernyanyi riang.

bolehkah aku bergabung dengan mereka sekarang ya Allah,
aku ingin sekali menyanyikan, "taman yang paling indah..."
mumpung sedang nggak ada mama dan paman.
boleh ya?

Oh iya, kalau Allah nggak keberatan sekalian panggil saja semua kawan-kawanku yang tak pernah menyanyikan lagu di rumah mereka dengan bahagia.
semua kawan-kawanku yang selalu menangis kesakitan.

biarkan kami semua bernyanyi di sini saja ya Allah,
menyanyi bersama-sama, menari bersama-sama, tertawa bersama-sama,
berpelukan bersama-sama, dorong-dorongan,
pukul-pukulan, cubit-cubitan,
lalu menyanyi lagi bersama-sama sambil bergandengan tangan.

boleh kan ya Allah?

oh iya, sebelum aku bergabung bersama teman-teman di sana,
namaku Riska Rosiana.
Allah bisa memanggilku Riska atau Rosi,
atau dipanggil Ana juga boleh.

Dadah Allah,
aku mau ikut nyanyi dulu ya?
Allah nggak akan marah seperti mama, 'kan?

akmal n. basral
jakarta. 17.01.06
"akmal n. basral" <anb99@....com>

ANAK-ANAK ITU PERGI DENGAN LUKA

Indah Akhirnya Meninggal
Indah Rosita, 3 tahun, bocah yang dibakar ayah dan ibunya, akhirnya meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dini hari tadi pukul 05.00 WIB....

Lintar Dirawat Jalan
M. Lintar Saputra, 11 bulan, bayi yang dibakar orang tuanya, sudah bisa dirawat jalan seiring kondisi luka bakar yang semakin membaik....

Kemungkinan Hidup Indah dan Lintar Hanya 50 Persen
Indah Rosita, 3 tahun, dan Lintar Syaputra, 11 bulan, yang dibakar kedua orang tuanya, akan mengalami masa kritis paling singkat selama satu bulan....

Ayah Jadi Tersangka Pembakar Anak
Peristiwa itu terjadi pada Minggu (1/1) pagi. Kini Rudi ditahan di Polsek Serpong....



BERITA SOLIDARITAS KEBERSAMAAN - YAYASAN TUNAS CENDEKIA
Mitra Penjual Gelang Kebersamaan Resmi
Yogha, Email : yogha01@yahoo.com.sg SMS/HP : 0852 2802 5480